Gantungan Kunci dari Batok Kelapa

tugas metodelogi desain

A.LATAR BELAKANG

Anda tahu batok atau tempurung kelapa? Bagi kebanyakan orang tempurung kelapa mungkin tidak berguna. Padahal sebenarnya tempurung kelapa justru sangat berguna untuk dijadikan kerajinan.
Siapa sangka dengan bermodalkan limbah tempurung yang dimodifikasi dengan tali pandandan pelepah pisang, menjadikan produk yang satu ini bernilai seni dan semakin banyak diminati. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika aneka barang kerajinan berbahan baku tempurung kelapa muda ini kerap ditemui disetiap pusat perbelanjaan di daerah kota wisata seperti Jogja, Bali, dan Lombok.

Berbagai Macam Bentuk

Kerajinan tempurung kelapa banyak dijajakan untuk dijadikan buah tangan dengan berbagai macam bentuk. Mulai dari aksesoris perempuan seperti jepitan, bingkai foto, hingga perabotan rumah tangga layaknya sendok dan mangkuk.
Selain itu batok kelapa juga bisa dibentuk menjadi gelas minum, nampan, penutup lampu, sendok, garpu, atau sendok sayur. Dengan sentuhan seni yang sangat halus, hasil kerajinan batok kelapa tersebut terlihat sangat artistik. Bahkan hasil dari kerajinan tempurung kelapa ini bisa berupa ragam tas dengan berbagai bentuk (model) dan ukuran, beragam bentuk model rel gorden, cup lampu, peci, manik-manik/kancing, dan lain-lain.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kerajianan dari batok kelapa cukup mudah untuk didapatkan, seperti lem kayu, tangkel (batok kelapa), dempul, melamin, amplas dan cat. Selain itu texwood juga dibutuhkan untuk dijadikan rangka kerajinan seperti produk meja dan lemari kecil yang bagian luarnya ditempeli tangkel.Agar terlihat artistik, serat dari tempurung kelapa harus ditonjolkan. Karena diseratlah melekat nilai seni yang kuat daripada usaha ini, selain bentuk-bentuk unik yang dibuat.

B. PEMBATASAN DAN PERUMUSAN MASALAH

Masalah ini di batasi hanya dengan kriya sederhana dari bahan batok kelapa saja tidak mencakup jenis kriya dari bahan yang lain.

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

  1. Sebagai  Tugas Metodelogi  Desain
  2. Sebagai  Penelitian dari kriya yang sangat berguna untuk lingkungan
  3. Sebagai penelusuran benda yang sederhana dengan bentuk yang unik.

D. OBJEK PENELITIAN

Data Premier :

Bahan : Batok Kelapa

Tempat : Pasar Anyar Tangerang

Jenis Kriya : Gantungan Kunci dari Batok Kelapa

Pengerajin : Bu Sadriyeh

Bu Sadriyeh adalah salah seorang pengererajin batok kelapa, beliau mengumpulkan sisa – sisa batok kelapa di Pasar Anyar Tangerang untuk di buatnya beraneka ragam gantungan kunci yang unik dengan seni yang tinggi dalam desain suatu produk yang ringan. Gantungan Kunci tersebut senilai Rp.2000,-/buah. Bu Anis dapat menjual gantungan kunci lima samapai sepuluh/ hari dan menghasilkan 200 hingga 400 ribuperbulan.  Meskipun penjualan gantungan kunci ini hanyalah usaha sampingan yang bisa di bilang “iseng – iseng”, namun usaha ini adalah suatu pemikiran bagus untuk memanfaatkan limbah batok kelapa sebagai sumber daya seni bentuk yang sederhana.

Data Skunder :

Hariyono Purwanta, Kembangkan Kerajinan Tas Batok Kelapa

SAMPAH jadi uang! Batok kelapa yang dibuang begitu saja dalam dua tahun terakhir ini berhasil diolah Hariyono Purwanta (35) untuk dibuat menjadi berbagai model tas. Hasil kerajinan batok kelapanya itu tak hanya menjadi monopoli di pasar lokal, tetapi juga ke pasar ekspor, seperti Malaysia dan Iran.

Hariyono, yang selama ini menitipkan hasil karyanya kepada rekannya untuk dipamerkan, kini mulai kewalahan memenuhi order, baik dari dalam maupun luar negeri. “Baru-baru ini ada pembeli dari Iran berminat membeli tas berbagai model. Sebagai tahap awal, calon pembeli itu telah memboyong minimal 50 jenis tas dari batok kelapa ke negaranya. Informasinya, tas berbahan baku batok kelapa seperti ini pasarnya di negara itu sangat potensial,” kata pelaku usaha kecil yang sudah menggeluti usaha peternakan ayam dan pupuk organik itu.

Sebelum menjadi pengusaha tas, Hariyono telah menjajal bisnis pengolahan pupuk organik tanpa bantuan modal dari perbankan dan keluarga. Bisnis yang digeluti memang tidak jauh dari latar belakang pendidikannya di bidang pertanian, Jurusan Agronomi, yang pernah ditekuni di Universitas HOS Tjokroaminoto, Yogyakarta, meski kandas di tengah jalan.

Sejak terjun ke sektor kerajinan batok kelapa, Hariyono memang agak keteteran menggarap pengolahan pupuk organik sehingga mulai ditinggalkan. Pasalnya, mengerjakan tas batok kelapa bukan pekerjaan mudah. Sebab, untuk membuat tas dari batok kelapa, dibutuhkan ketekunan dan keseriusan. Untuk mendapatkan 500 bulatan kecil seperti kancing, dibutuhkan waktu enam hari bagi seorang pekerja.

Kebutuhan batok kelapa pun terus meningkat karena untuk satu karung besar dengan berat 100 kilogram bisa dikerjakan dalam empat hari. “Bahan baku memang mudah diperoleh karena banyak warga yang sudah datang menjual batok kelapa ke sini. Pokoknya sampah sudah jadi duit,” katanya.

TAS yang dibuat Hariyono bersama sekitar 20 perajin diberi merek dagang UD

Sumber Makmur. Produk tas batok kelapa ini membuat Hariyono berbeda dengan pengusaha tempurung lainnya di Yogyakarta dan Surabaya, Jawa Timur. Keunggulan buatan Hariyono terletak pada desain produknya yang lebih variatif ketimbang produk serupa yang dibuat oleh pengusaha lain.

Ayah dua anak ini mulai menekuni bisnis tas berbahan baku tempurung sejak dua tahun lalu.

Bermodal Rp 16 juta, Hariyono memulai membeli mesin untuk proses produksi. Hariyono, yang sebelumnya juga sudah berbisnis pupuk, mulai belok ke usaha tas berbahan baku tempurung kelapa ini setelah mendengar informasi bahwa peluang pasar produk kerajinan ini di tingkat nasional maupun ekspor cukup kuat. Dengan mesin yang ada, Hariyono bisa menghasilkan produk kerajinan antara lain kalung, gelang, tempat telepon genggam, meja, dan berbagai pernak-pernik yang semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Saat memulai usaha, Hariyono dibantu oleh seorang pekerja. Maklum, karena pada waktu itu mesin untuk berproduksi hanya dua. Seiring dengan perkembangan waktu, order pun terus bertambah dari berbagai kota di Indonesia sehingga mesin produksi pun terus bertambah. Kini sedikitnya Hariyono berhasil membuat usahanya lebih besar sehingga mampu menampung 20 tenaga kerja.

Besarnya jumlah tenaga kerja yang mereka pakai adalah karena pada umumnya proses produksi masih banyak yang manual, kata Hariyono. Proses pembuatan tas dari tempurung secara manual ini menyebabkan proses produksi memakan waktu enam hari, yang dikerjakan oleh satu orang. Prosesnya dimulai dari memotong tempurung berbentuk seperti kancing, dihaluskan, ditempel pada satu media, kemudian dihaluskan lagi pada sisi luar, lalu dijahit dengan tangan. Semuanya dilakukan dengan tangan agar memperoleh hasil yang rapi.

Proses produksi inilah yang membuat produknya bisa laku di pasar karena selain unik, pembuatannya juga halus. Beda jika dilakukan dengan menggunakan mesin, sentuhannya pasti tidak serapi dengan menggunakan tangan, yang biasanya jauh lebih terampil.

Keyakinan untuk banting setir ini ternyata berbuah hasil. Dewi Fortuna mendekatinya ketika untuk pertama kali produknya dipamerkan di Forum Kesenian Yogyakarta VIII Tahun

2003. Di ajang pameran itu produknya mendapat sambutan positif. Di pameran itu dia mulai menerima banyak pesanan dari Jakarta, Surabaya, bahkan orang asing membeli langsung ke tempat usahanya.

Pemasaran dilakukan bersama-sama dengan istrinya, Riyanti Tri Utami. “Saya pernah mendapat order membuat 150 tas. Itu order terbesar yang pernah saya dapat,” ujarnya. Kemampuan membuat tas masih sangat minim, yakni 250 tas dengan 55 model per bulan ditambah pernak-pernik lain karena mesin yang dimiliki masih sedikit. Harga tas buatan Hariyono Rp 40.000-Rp 250.000 per buah, sedangkan harga meja kecil yang dibuatnya Rp 400.000.

Padahal, jika ada order 1.000 tas saja setiap bulan, minimal 350 pekerja bisa menggantung hidup pada usaha kerajinan batok kelapa itu. “Saya ingin meningkatkan kapasitas produksi karena pesanan luar biasa banyak. Apalagi beberapa konsumen dari Timur Tengah mulai melakukan order. Cuma, saya sulit memenuhi karena tidak cukup modal untuk membeli mesin yang harganya di atas Rp 10 juta per unit,” ujarnya.

Tak jarang ia bersama istrinya harus pontang-panting ke sana-kemari untuk mencari modal awal memenuhi permintaan pembeli karena barang tidak tersedia. “Kalau ada bantuan modal, mesin bisa saya tambah. Otomatis tenaga kerja yang terserap pun akan bertambah, terutama bagi lingkungan sekitar,” kata Hariyono yang juga memasarkan produknya melalui beberapa koperasi di Yogyakarta.

E. HIPOTESIS

NO MASALAH SOLUSI
1. Inspirasi penggunaan limbah batok kelapa Menggunakan batok kelapa sebagai bahan yang kuat dan unik sebagai gantungan kunci
2. Lingkungan Pasar Anyar sebagai daerah yang penuh dengan sampah yang di manfaatkan salah satu sampahnya (batok kelapa)untuk daur ulang
3. pemasaran produk Di jual kepada ibu – ibu yang mengantar sekolah terhadap anaknya sebagai langkah awal

F. PENDEKATAN METODE

  1. Batok Kelapa
  2. Amplas
  3. Pisau ukuran besar
  4. Pisau ukuran kecil
  5. Mur pelubang
  6. Rantai gantungan kunci

Pertama cari batok kelapa yang tua,bersihkan cuci sikat dan jemur.Buat rencana bikin apa,asbak,hiasan dinding,gantungan kunci dll.setelah di motif amplas hingga halus,lalu beri lubang2 yang diperlukan selanjutnya vernis dan jemur hingga kering.

Analisis :

Sebaiknya batok kelapa tetap  tidak di beri warna agar kesan bahan batok kelapanya tidak berubah

About these ads

3 gagasan untuk “Gantungan Kunci dari Batok Kelapa

  1. saya hestiyani dari universitas negeri makassar,saya ingin bertanya apa rencana kedepan anda mengenai usaha ini.terimah kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s